Loading...

Memahami Isi Kandungan QS. Al-Isra’ Ayat 32

Thursday, February 21, 2019 Add Comment

Secara umum QS Al-Isra’ (17) ayat 32 mengandung pesan-pesan sebagai berikut :
Pertama, Larangan mendekati zina
Kedua, Zina merupakan perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk

Zina adalah melakukan hubungan biologis layaknya suami isteri di luar tali pernikahan yang sah. Rasululah saw telah memberikan peringatan bahwa merebaknya perzinahan merupakan salah satu tanda kehancuran peradaban manusia dan merupakan tanda-tanda datangnya kiamat sebagaimana hadits nabi di bawah ini.

Artinya : “Dari Qatadah telah mengabarkan kepada kami Anas mengatakan; aku mendengar Nabi SAW bersabda: "diantara tanda kiamat adalah ilmu diangkat, kebodohan merajalela, khamer ditenggak, zina mewabah, (jumlah) laki-laki menyusut dan (jumlah) wanita melimpah ruah, hingga jika ada lima puluh wanita itu berbanding dengan seorang laki-laki." (HR Bukhari)

Menurut pandangan hukum Islam, perbuatan zina merupakan dosa besar yang dilarang keras oleh Allah SWT. Ditegaskan oleh Allah bahwa dalam  QS Al-Isra’ ayat 32 bahwa zina dikategorikan sebagai perbuatan yang keji, hina, dan buruk. Tegas sekali Allah telah memberi predikat terhadap perbuatan zina melalui ayat tersebut sebagai perbuatan yang merendahkan harkat, martabat, dan kehormatan manusia. Karena demikian bahayanya perbuatan zina, maka sebagai langkah pencegahan maka Allah juga melarang perbuatan yang mendekati atau mengarah kepada zina.

Rasulullah menjelaskan mengenai bentuk-bentuk perbuatan yang mendekati zina, sebagaimana diuraikan dalam hadis berikut ini :

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya manusia itu telah ditentukan nasib perzinaannya yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan ditindak lanjuti atau ditolak oleh kemaluan." (HR. Muslim)


Imam Sayuthi dalam kitabnya Al-Jami’ Al-Kabir menulislan bahwa perbuatan zina dapat megakibatkan 6 dampak negatif bagi pelakunya. 3 dampak negatif menimpa pada saat di dunia dan 3 dampak lagi akan ditimpakan kelak di akhirat.

Adapun 3 hal yang akan menimpa di dunia ialah :

(1)  Menghilangkan wibawa.
Pelaku zina akan kehilangan kebersihan jiwanya dan kesucian dirinya, yang keduanya merupakan sumber kebahagiaan dan ketenangan hidupnya

(2)  Mengakibatkan kefakiran,
Perbuatan zina juga akan mengakibatkan pelakunya menjadi miskin. Sebab, pelakunya akan selalu mengejar kepuasan birahinya, yang sudah barang tentu akan memakan energi dan waktu bagi dirinya. Di samping itu, ia pun harus mengeluarkan biaya untuk memenuhi nafsu birahinya, yang pada dasarnya tidaklah sedikit. Kedua faktor inilah yang akan mengakibatkan para pelaku zina jatuh miskin.

(3)  Mengurangi umur.
Perbuatan tersebut juga akan mengakibatkan umur pelaku zina berkurang lantaran akan terserang penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Saat ini banyak sekali penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas, seperti HIV/AIDS, infeksi saluran kelamin, dan sebagainya.

Dan tiga lagi yang akan dijatuhkan di akherat :

(1)  Mendapat murka dari Allah
Perbuatan zina merupakan salah satu dosa besar sehingga para pelakunya akan mendapat murka dari Allah SWT kelak di akhirat.

(2)  Hisab yang jelek (banyak dosa)
Pada saat hari perhitungan amal (yaumul hisab) maka para pelaku zina akan menyesal karena mereka akan diperlihatkan betapa besarnya dosa akibat perbuatan zina yang dia lakukan semasa hidup di dunia. Penyesalan hanya tinggal penyesalan, semuanya sudah terlanjur dilakukan.

(3) Siksaan di neraka

Para pelaku perbuatan zina akan mendapatkan siksa yang berat dan hina kelak di neraka. Dikisahkan pada saat Rasulullah melakukan Isra’ dan Mi’raj beliau diperlihatkan ada sekelompok orang yang menghadapi daging segar tapi mereka lebih suka memakan daging yang amat busuk dari pada daging segar. Itulah siksaan dan kehinaan bagi pelaku zina. Mereka selingkuh padahal mereka mempunyai istri atau suami yang sah. Kemudian Rasulullah juga diperlihatkan ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, namun bau tubuhnya sangat busuk, menjijikkan saat dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran (comberan). Rasul kemudian bertanya, ‘Siapakah mereka?’ Dua Malaikat yang mendampingi beliau menjawab, “Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan’.”

Memahami Kandungan QS. Al-Isra Ayat 32 (Pexel)
Demikianlah diantara kandungan Surat Al-Isra’ ayat 32 yang berisi tentang larangan berzina. Semoga bermanfaat.

Baca Juga :


Kandungan Surat Al Anfal Ayat 72 Tentang Kontrol Diri

Wednesday, February 20, 2019 Add Comment

Kandungan Surat Al Anfal Ayat 72 Tentang Kontrol Diri. Hallo sahabat Coretan Pena, Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat ya. Aamiin. Dalam kesempatan kali ini admin akan share kepada kalian tentang salah satu kandungan Ayat Al-Qur’an tentang Kontrol Diri yaitu QS. Surat Al-Anfal Ayat 72.

Sumber : Pixabay(dot)com
Dalam postingan ini admin akan mencoba untuk share tentang apa kandungan serta hikmah dari isi Surat Al-Anfal ayat 72 yang insya allah mudah untuk kalian pahami.

Langsung saja yuk, kita bahas apa Kandungan QS. Al-Anfal ayat 72 ini :

Pertama, pada peristiwa hijrah, ada tiga golongan yang disebutkan QS Al-Anfal (8) ayat 72, yaitu :

(1) Kaum Muhajirin
Muhajirin adalah orang-orang yang berhijrah bersama Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Sebelum berhijrah, mereka mengalami kekerasan dan kekejaman yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Namun mereka tetap sabar dan tabah menghadapinya, dan tetap dalam keimanan. Mereka tetap bertahan dan berjuang membela agama Islam dan bersedia berkorban dengan harta dan jiwa. Oleh sebab itu mereka mendapat tempat istimewa disisi Allah SWT dan mendapat tiga sebutan, pertama "beriman", kedua "berhijrah", dan ketiga "berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah".

(2) Kaum Anshar
Kaum Anshar adalah orang-orang Madinah yang beriman kepada Allah SWT, berjanji kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum Muhajirin untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah. Mereka bersedia menolong, dan berkorban dengan harta dan jiwanya demi keberhasilan perjuangan Islam. Allah memberikan dua sebutan mulia kepada mereka, pertama "pemberi tempat kediaman" dan kedua "penolong dan pembantu".

(3) Kaum Muslimin yang tidak berhijrah ke Madinah.
Mereka tetap tinggal di Mekah yang dikuasai oleh kaum musyrikin. Mereka tidak dapat disamakan dengan kaum Muhajirin dan Anshar karena mereka tidak berada dalam lingkungan masyarakat Islam, tetapi hidup di lingkungan orang-orang musyrik. Oleh karena itu hubungan antara mereka dengan kaum muslimin di Madinah tidak dapat disamakan dengan hubungan antara Muhajirin dan Anshar dalam masyarakat Islam. Hubungan antara sesama mukmin di Madinah sangat erat bahkan seperti saudara satu keturunan yang tidak lagi membedakan hak dan kewajiban. Hubungan antara mereka dengan mukmin di madinah hanya diikat atas dasar keimanan saja.


Kedua, Antara Muhajirin dan Anshor saling melindungi, hidup berdampingan dan saling tolong menolong.

Ketiga, Muhajirin dan Anshor melakukan jihad dengan harta dan jiwanya atas dorongan keimanan kepada Allah SWT.

Keempat, Allah SWT Maha Melihat dan Mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-Nya.

QS Al-Anfal (8) ayat 72 menjelaskan bahwa Kaum Muhajirin dan Anshar telah memberikan teladan dalam mujahadah an-nafs. Secara bahasa mujahadah artinya bersungguh-sungguh, sedangkan an-nafs artinya jiwa, nafsu, diri. Jadi mujahadah an-nafs artinya perjuangan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu atau bersungguh-sungguh  menghindari perbuatan yang melanggar hukum-hukum Allah SWT. Dalam bahasa Indonesia mujahadah an-nafs disebut dengan kontrol diri. Kontrol diri merupakan salah satu perilaku terpuji yang harus dimiliki setiap muslim.

Menurut Al-Qur’an nafsu dibagi menjadi tiga, yaitu :
Pertama, Nafsu Ammarah, yaitu nafsu yang mendorong manusia kepada keburukan (QS Yusuf [12] ayat 53)
Kedua, Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang menyesali setiap perbuatan buruk (QS Al-Qiyamah [75] ayat 2)
Ketiga, Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang tenang (QS Al-Fajr [89] ayat 27-30)

Dari ketiga nafsu yang disebutkan Al-Qur’an diatas, kita tahu bahwa nafsu Ammarah mendorong manusia untuk berbuat maksiat. Kemaksiatan akan menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT serta akan menimbulkan kegelisahan dalam hati. Oleh karena itu Islam mengajarkan mujahadah an-nafs supaya hidup kita bahagia dunia dan akhirat.

Hawa nafsu memiliki kecenderungan untuk mencari berbagai macam kesenangan dengan tidak mempedulikan aturan agama. Jika kita menuruti hawa nafsu maka sesungguhnya hati kita telah tertawan dan diperbudak oleh hawa nafsu itu. Nabi Muhammad SAW menyebut jihad melawan hawa nafsu sebagai jihad besar (jihadul akbar), sedangkan jihad memerangi orang kafir sebagai jihad kecil (jihadul asghar). Mengapa demikian ? Hal ini dikarenakan jihad melawan nafsu berarti jihad melawan hal – hal yang menyenangkan, digemari, dan disukai. Sedangkan jihad melawan orang kafir berarti jihad melawan musuh yang kita benci. Bukankah menghindari sesuatu yang kita senangi jauh lebih berat daripada menghindari sesuatu yang kita benci ?

Sebagaimana sebuah hadits yang Artinya : ”Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu)." (HR Bukhari)

Manfaat dan Hikmah Kontrol Diri

Seseorang yang melakukan kontrol diri (mujahadah an-nafs) akan memperoleh manfaat dan hikmah sebagai berikut :

1)  Hati semakin bersih dan tenang
2)  Memperoleh kebahagiaan lahir dan batin
3)  Diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam mengerjakan amal shaleh
4)  Dijauhkan dari sifat-sifat tercela, seperti iri, dengki dan sombong
5)  Dicintai Allah SWT dan sesama manusia
6)  Mendapatkan hidayah yang sempurna dari Allah SWT
7)  Mendapatkan ridha dari Allah SWT

Demikian tulisan Kandungan Surat Al Anfal Ayat 72 Tentang Kontrol Diri. Semoga bermanfaat ya.

Apa yang Tak Bisa Membuatmu Bersedih, Ia Juga Tak Bisa Membuatmu Bahagia

Sunday, February 17, 2019 Add Comment

Cerpen Sungging Raga

Sumber : Suara Merdeka (17/02/2019)
Demikianlah kenyataannya, perpisahan paling menyakitkan bukanlah perpisahan yang dinaungi kabut gelap patah hati atau pertengkaran begitu dahsyat, melainkan perpisahan karena cinta yang terlalu sempurna sehingga gagal menciptakan kesedihan. Perpisahan semacam ini sering kali muncul dari arah tidak diduga; ia sunyi tapi menggetarkan. Serupa gempa yang menjalar di perut-perut bumi, serupa badai yang bersembunyi di bilik-bilik awan, serupa tsunami yang membangunkan ikan-ikan di lautan.
Seperti yang akan kukisahkan berikut ini.

***

Sore itu, hujan baru saja menyelesaikan bagian penutup dari ramalan cuaca. Jalanan basah sore hari dengan lampu-lampu mulai menyala. Aku dan kekasihku, Nalea, duduk di depan sebuah minimarket, memandangi kemacetan yang rutin, seperti memandangi dunia yang makin berat memikul beban kebahagiaan seluruh manusia.

“Jadi kita memang harus berpisah,” kata Nalea.

“Tapi kenapa? Apa aku pernah melukaimu?”

“Justru sebaliknya. Kau tidak pernah membuatku bersedih. Dan apa yang tidak bisa membuatku bersedih, ia juga tidak bisa membuatku bahagia.”

“Omong kosong. Buktinya kita selalu bahagia selama ini.”

“Tidak, aku merasa kebahagiaan ini cuma kabut ilusi. Dan kita hanya menunggu kabut itu reda, sampai akhirnya kita sadar kebahagiaan yang sesungguhnya tidak pernah ada.”

Begitulah. Nalea lebih percaya pada apa yang masih ada dalam pikirannya daripada apa terjadi selama ini di depan mata. Padahal jauh sebelum ini, cinta kami terintis dari kebahagiaan-kebahagiaan kecil, terbangun dengan fondasi pertemuan yang sentimental. Nalea mahasiswi jurusan filsafat, sedangkan aku bekerja di sebuah perusahaan tambang, yang jika kupaparkan pastilah para pembaca yakin: karierku sangat menjanjikan masa depan. Wajahku juga cukup  tampan, sehingga jika dilihat dari sisi mana pun, sudah seharusnya aku menjadi lelaki idaman Miss Universe. Namun aku jatuh hati pada Nalea, mahasiswi dari Gunungkidul, yang beruntung bisa kuliah, sementara teman-temannya langsung dipaksa menikah.

Perkenalanku dengan Nalea berawal saat aku menonton pertunjukan teater. Nalea hanya figuran dalam sebuah lakon cerita, tapi kemudian ia menjadi tokoh utama dalam hatiku yang ditumbuhi bunga-bunga.

Sehabis pementasan, aku berkenalan dengannya, bertukar nomor ponsel, bertukar pandangan, melanjutkan pertemuan di kafe-kafe minimalis, hingga akhirnya bertukar perasaan. Seperti itulah cinta kami bersemi. Dan seharusnya Nalea bergembira ketika kuberi tahu aku bekerja di perusahaan besar yang bisa menjanjikannya uang untuk ikut arisan berlian dengan ibu-ibu kompleks. Namun akhirnya, ketika Nalea memasuki semester tiga dan pikirannya makin tak bisa dicerna, hubungan kami kandas seperti kisah drama Korea.

“Teori macam apa itu, sesuatu yang tidak bisa membuat bersedih, tidak bisa membuat bahagia?”

“Memang begitulah, untuk kebahagiaan yang sempurna, ia juga harus memberikan kesedihan. Tapi aku tak pernah merasa sedih bersamamu. Jadi kita harus berpisah.”

Tekad Nalea sudah kukuh. Maka sore itu, sebuah perpisahan aneh pun tak terhindarkan.

***

Meski kejadian itu sudah berlalu tiga tahun lalu, kenangan tetaplah seperti panah yang mengincar ingatan. Aku begitu kesulitan melupakan Nalea, setiap lipatan tahun dan bulan seperti sayatan kehilangan. Barulah pada suatu musim semi yang hangat di Carrow Road, ketika berlibur di Inggris, aku bertemu seorang wanita yang sukses menyaingi posisi Nalea. Namanya Manisha. Sebenarnya ia gadis dari Indonesia, yang beruntung bisa kuliah ke luar negeri, sementara teman-temannya harus menikah sebelum lulus S-2.

“Maukah kau menunggu aku lulus S-2?”

“Aku bahkan akan menunggumu andai kau ada di surga, sementara aku di neraka.”

Manisha gadis yang setidaknya mampu mengalihkan setengah isi kepalaku dari Nalea. Pernah ada pepatah, jika kita melepaskan sesuatu, akan mendapat ganti sesuatu yang lebih baik. Apakah Manisha adalah pengganti yang lebih baik dari Nalea?

Namun karena cukup lama juga menunggu ia lulus S-2, aku diam-diam tetap mengikuti kabar Nalea. Kudengar, saat ini Nalea makin menderita karena menjalin hubungan dengan seorang lelaki pengangguran yang kerjanya hanya menulis cerita pendek. Karena penasaran, aku mencari tahu siapakah lelaki itu.

Setelah bertanya dan mendapat informasi dari beberapa teman Nalea, aku pun bertemu lelaki itu di warung burjo. Seorang lelaki kurus, dengan rambut kusut dan aroma badan pahit. Terbayang bagiku mengapa Nalea menderita bersamanya. Barangkali ia serbakekurangan dan bahkan tak bisa meminta pertolongan kepada Tuhan karena dia anggap Tuhan telah mati. Aku tidak langsung menyapa lelaki itu, tapi kuperhatikan gelagatnya ketika ia mengambil gorengan lima tapi mengaku tiga kepada pemilik warung.

Saat keluar dari warung, segera kutepuk pundaknya. “Jadi kamu Salem, kekasih Nalea sekarang?”

“Benar, Bung.” Ia terdiam sesaat. “Oh, pasti Bung satu dari sekian masa lalu Nalea. Tak apa Bung, hidup toh hanya tentang perpindahan masa lalu ke masa sekarang, sebelum kita menjadi masa lalu bagi orang-orang pada masa depan.”

Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Sepertinya dunia orang ini sangat jauh dari pikiranku.

“Kira-kira, ada perlu apa, Bung?” tanyanya.

“Tidak ada. Saya hanya titip uang buat Nalea.”

Kuserahkan amplop berisi uang. Ia langsung meraih. “Wah, terima kasih, Bung. Sungguh, cinta itu bersifat membebaskan. Kekasih saya juga kekasih Anda. Dunia ini penuh kasih, jadi kita bebas mengasihi siapa yang juga ingin dikasihi orang lain. Karena setiap kekasih adalah bagian dari kasih semesta alam. Sudah sepantasnya ia tidak disekat oleh apa pun. Meskipun  Nalea telah memilih saya, ia juga milik Anda, juga berhak Anda bantu. Uang ini pastilah simbol akan cinta kasih yang tak terikat lagi dengan aturan yang bersifat mengekang. Ini akan jadi eksplorasi saat orang-orang mendefinisikan cinta sebagai sesuatu yang memaksa dan menuntut. Nalea pasti akan mengingat bukti kasih Anda.”

“Orang sinting,” pikirku. Namun aku rutin bertemu dia seminggu sekali untuk menitipkan uang kepada Nalea. Dan setiap kali menerima uang, ia selalu bicara cinta kasih, kebebasan, dan hal-hal tidak jelas lain.

Ya. Seseorang boleh bersikap ideologis, berpikiran filosofis, tapi ia tetap butuh uang untuk makan.

Sementara itu, pada belahan diriku yang lain, hubunganku dengan Manisha seperti laju kereta Shinkansen, mulus tanpa hambatan. Kebahagiaan kami terlampau lancar. Bahkan ketika orang tua Manisha mengetahui jabatanku di perusahaan tambang, mereka hampir pingsan karena bahagia. Tanggal pernikahan pun segera dipilih tanpa perlu membaca weton. Namun ketika semua sudah direncanakan, ketika kami telah duduk di pelaminan, pada hari pernikahan yang ditunggu-tunggu, tiba-tiba Manisha begitu murung; raut wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Apa kau benar mencintaiku?” ia bertanya balik. Dan matanya basah, ada riasan yang luntur di wajahnya. “Aku tahu, selama ini aku seperti bayang-bayang orang lain di pikiranmu.”

Ia menangis. Barangkali ia mengetahui apa yang kulakukan selama ini, mengetahui aku masih peduli terhadap seseorang pada masa lalu. Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah karena telah membuatnya bersedih....

Hah? Membuatnya bersedih?

Tunggu. Kalau aku bisa membuat Manisha bersedih, bukankah itu artinya...? Seperti ada sensasi aneh yang menjalar begitu cepat. Aku pun memegang kedua pundak Manesha. “Ha-ha! Lihat kau menangis! Aku bisa membuatmu bersedih. Ha-ha.”

“Apa maksudmu?” Manisha tampak bingung.

“Ah, apa kamu tidak tahu? Sesuatu yang bisa membuatmu bersedih, juga bisa membuatmu  bahagia! Berarti aku juga bisa membuatmu bahagia. Sekarang kau tidak perlu khawatir lagi! Haha.” Aku terus tertawa seperti kehilangan kewarasan.

Manisha seperti tidak paham. Orang-orang memandangku heran. Namun biarlah. Aku lantas memeluk Manisha begitu erat, lebih erat dari sepasang pohon yang menggigil karena cuaca.

***

Pembaca Budiman, demikianlah kenyataannya. Cinta yang paling sempurna adalah cinta yang bisa menciptakan kesedihan dan air mata. Jadi, jika pasangan Anda membuat Anda bersedih, jangan terburu-buru meninggalkannya. Barangkali itu tanda, ia juga bisa membuat Anda bahagia.

Yah.... barangkali saja. (28)


- Sungging Raga menulis cerpen sejak 2009, buku kumpulan cerpen terbarunya Apeirophobia (2018). Saat ini dia tinggal di Tangerang, Banten.

Sumber : Suara Merdeka Edisi Minggu, 17 Februari 2019

Perempuan yang Kembali Mati pada Pagi Hari

Friday, February 15, 2019 Add Comment
Sumber : Suara Merdeka Edisi Minggu (20/01/2019)

Cerpen Anas S Malo

Akhirnya anjing itu tewas, karena kelaparan dan luka-luka yang diderita. Malang sekali. Padahal, dia juga makhluk Tuhan. Dan, kalaupun tewas, dia belum tentu masuk surga.

Bila dini hari, apa yang dilakukan kebanyakan orang? Membungkus tubuh dengan selimut? Atau menghangatkan tubuh dengan pelukan?

Tidak untukku. Aku berteduh di emperan toko kelontong yang masih tertutup dengan tirai bergaris hitam merah. Angin bersiur gigil bulan Januari awal. Lengang terhampar di sepanjang jalan Paris. Lampu jalan bercahaya kekuningkuningan, sedangkan lampu merah terus menyala di sela-sela waktu tanpa henti, meski tak ada kendaraan berhenti. Lengang, selengang hati ditinggal kekasih.

Aku menunggu gerimis berhenti. Beberapa menit berselang, gerimis berubah menjadi hujan deras. Ketukan atap bersuara nyaring tanpa jeda. Menimbulkan pikiran jauh melayang-layang mencari sesuatu pada masa lalu —menemukan kenangan yang tidak perlu dicari. Sebelum pergi malam tadi, aku sudah punya firasat akan terjebak hujan. Dan, itu terjadi. Dari keseringan itu, aku tidak begitu asing dengan yang saat ini aku alami. Tersedia seonggok kursi panjang di teras toko. Aku duduk. Sambil menunggu hujan reda.

Aku melihat beberapa poster dan bendera partai dipasang di sepanjang jalan. “Jadikan tahun politik damai dan sejuk.” Itulah beberapa di area jalan bertulis seperti itu. Suara ayam jantan sesekali berkokok dari jauh, berasal dari perkampungan. Terjebak hujan tidak menjadi masalah bagiku, tetapi terjebak dalam lingkaran politik yang hanya mengobral janji-janji dan narasinarasi yang negatif untuk rakyat, untuk apa dilakukan? Gumamku dalam kepungan gemuruh hujan.

Aku selalu bertanya-tanya, mengapa pada saat ini, bangsa ini tidak ada lagi figur sesosok Soekarno yang begitu heroik membangkitkan semangat rakyat untuk tidak pesimistis. Pula dengan Mohamad Yamin yang menyusuri Nusantara sampai bagian terdalam. Sebelum 6.000 tahun lalu, zaman Nusantara purbakala, sudah memuja matahari yang dilambangkan sebagai warna merah dan memuja bulan sebagai perwujudan lambang putih. Atau, Tan Malaka yang berkobar-kobar, “Ingatlah, dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada atas bumi.” Itulah yang aku pahami lewat buku bacaanku awal-awal semester.

Hujan hendak berhenti. Sementara di sebelah kiri jalan ke arah barat, aku melihat sesuatu berjalan. Makin lama kian dekat. Namun aku tercengang oleh anjing buduk berjalan pincang. Badannya sangat kurus. Matanya terpejam sebelah. Kulitnya yang banyak bopeng oleh luka tampak belum kering sepenuhnya. Warna bulu cokelat kombinasi merah yang basah akibat air hujan itu begitu menyedihkan.

Anjing itu tertatih-tatih melewati toko-toko dan bangunan-bangunan. Delina hampir satu jam menunggu hujan reda. Aku menatap. Ia menatapku mengiba, seraya menggonggong pelan. Pelan sekali. Seperti mengatakan ia makhluk paling menderita yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini. Aku menduga, itu pasti ulah warga kampung yang tidak suka anjing. Aku benar-benar tidak suka pada engan warga kampung yang sok suci. Padahal, anjing juga makhluk Tuhan yang berhak dihargai.

Aku mengikuti langkah anjing itu. Sebenarnya aku tidak bermaksud membuntuti anjing itu. Lama-kelamaan aku kasihan melihat langkah anjing itu yang terhuyung-huyung. Tampak berat. Hujan sepenuhnya reda. Memasuki waktu fajar, aku tiba di sebuah gang kecil kumuh dan kotor dan masuk ke sebuah lorong kecil, gelap tetapi ada tepias cahaya lampu yang bisa menembus. Aku tertarik pada engan anjing itu, sampai aku rela mengikuti anjing penuh bopeng luka itu. Di sebuah tempat yang gelap, kotor, dan bau, aku mendapati empat ekor anak anjing baru berumur tiga hari atau empat hari di dalam kardus.

Aku makin iba pada anjing dan empat ekor anaknya itu. Aku baru mengerti, anjing itu induk yang mencari makan untuk mengisi air susu yang akan diberikan ke empat ekor anaknya yang mungil sekaligus terancam kelaparan. Anjing itu berusaha melompat ke atas kardus bekas penyedap rasa makanan. Pelan. Ia melihatku. Kaki depan kanan anjing itu patah di pergelangan telapak kaki, sehingga ia harus melompat dengan ketiga kaki.

Dalam gelap, aku melihat, suara napas ringkih. Berat. Beberapa cuitan kelelawar terdengar, terbang ke sana- kemari. Terdengar suara menggema dari benda jatuh. Jantungku menggedor. Ada yang menyentuh mata kakiku, menggelitik. Spontan, aku meronta, geli. Setelah aku lihat ternyata dari pencahayaan yang buruk, seekor tikus mengendus mata kaki. Aku merasa, tempat ini benar-benar menyedihkan.

“Untuk apa kau datang ke tempat ini?” Suara itu tiba-tiba datang dari kegelapan ruang. Suara itu begitu lirih dan menyeramkan. Aku makin takut. Aku meraba-raba tembok dan tidak ingin mencari sumber suara itu.

“Siapa kau?” tanyaku, berusaha melawan rasa takut.

Sesosok wanita muncul dari kegelapan. Berjalan perlahan, menghampiriku dengan bantuan tongkat. Wajahnya tidak jelas, karena gelap. Ketukan tongkatnya terdengar jelas.

“Siapa kau?” tanyaku lagi.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini, wahai pemuas lelaki hidung belang?”

“Aku hanya mengikuti anjing itu karena kasihan padanya. Dan, akhirnya anjing itu membawa aku ke tempat ini. Apakah anjing itu peliharaanmu?”

Malam berangsur-unsur memudar. Beberapa ayam jantan berkokok. Suara ceracau burung-burung menyambut pagi. Suara wanita itu lenyap bersama bayangnya. Delina memanggil-manggil wanita itu. Sinar matahari condong bersinar dari arah timur, merah kekuning-kuningan. Delina mendekat ke arah anjing itu. Induk anjing mendekap anak-anaknya.

Anjing-anjing itu tampak gelisah. Menggelendot ke selangkangan, menyusur bagian tubuh, mencari puting induk. Cahaya pagi menembus sela-sela genting bocor. Di tempat ini hanya ada cericitan tikus dan kelelawar, serta lengusan anak-anak anjing. Tak lebih dari itu. Perihal ada wanita tua yang lenyap ditelan gelap tadi, aku masih menyimpan rasa janggal. Dari mana asal wanita yang tidak tampak wajahnya itu? Dan, dari mana ia masuk ke ruangan ini?

Induk anjing itu tak bergerak sama sekali. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tetapi tak ada gerakan. Tubuhnya dingin. Aku curiga. Memang benar, apa yang aku takutkan benar terjadi. Anjing itu tewas, mendekap anak-anaknya. Inilah keadaan yang menyedihkan bagi empat ekor anak anjing itu. Aku iba. Aku ingin merawatnya, membawa pulang ke rumah sebagai hewan peliharaan.

Di tempat itu, ada beberapa ruangan. Aku berjalan bergegas keluar dari tempat itu. Namun aku menaruh perasaan penasaran terhadap salah satu ruangan yang begitu menarik perasaanku. Ya, ruangan misterius itu. Ruang yang penuh sarang laba. Ruang kedap udara.

Aku masuk ke dalamnya, membawa kardus berisi empat bayi anjing. Sementara bangkai sang induk, aku biarkan di lantai. Aku meletakkan kardus itu. Ada sebuah peti jenazah. Aku melihat dari ke jauhan. Aku mengendap seperti mengintai target buruan. Ada banyak alat laboratorium. Tabung reaksi, elenmeyer, gelas ukur tampak membeku. Buiret dan fortex juga. Beberapa larutan NaCLdan buffer terletak di atas meja. Aku terus menyusuri, menuju peti jenazah itu. Penasaran. Perlahan aku membuka tutup peti itu. Agak berat. Aku terkejut, ketika mataku mendapati perempuan tua itu ada di dalamnya. Pucat pasi. Sembujung, tangan tertelungkup, mata terpejam.(28)

- Anas S Malo, lahir Bojonegoro, belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta. Sekarang aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Karyanya tersiar di berbagai media.

Sumber : Suara Merdeka Edisi Minggu, 20 Januari 2019

Hari Ini, Kau Mati

Thursday, February 14, 2019 Add Comment

Cerpen Dicky Qulyubi Aji
Sumber : Suara Merdeka Edisi Minggu (27/01/2019)

“Hari ini, kau mati!”

Kau pura-pura tak mendengar suaraku. Kau berlagak cuek. Kau merasa hanya berhalusinasi. Jadi kau berpikiran aneh-aneh. Mungkin karena efek kurang tidur. Kau agak kehilangan fokus. Aku mengamati kerutan di bawah matamu. Tampak sangat hitam. Wajahmu kusut, serupa pakaian yang belum diseterika. Kau menarik napas panjang. Lalu meraih secangkir kopi dari atas meja, menyeruput perlahan. Sejenak kau bersandar ke kursi. Matamu menatap jendela. Di luar gerimis.

“Hari ini, kau mati!”

Aku berbisik kembali ke telingamu. Bulubulu di tanganmu berdiri. Aku yakin tubuhmu meremang. Kau menepuk-nepuk kedua belah pipi dengan telapak tangan. Seakan menyadarkan diri dari lamunan. Telepon di atas meja berdering, mengagetkan. Kau mengusap layar benda pipih berwarna hitam itu. Pesan Whatsapp nyaris memenuhi separuh layar ponselmu. Kau mendengus kesal. Setelah kauperiksa, pesan itu dari para mahasiswa yang minta bimbingan. Kau malas membalas. Ketakutanmu malah berubah menjadi kejengkelan.

Sudah beberapa hari kau lupa menelepon istrimu. Kali terakhir kau menghubungi dia dua hari lalu. Dia meminta dibelikan lumpia. Kau ingin menolak, dengan alasan belum gajian. Kau ingin mengelak, dengan berkata pada musim hujan jarang yang berjualan lumpia. Namun pikiran-pikiran buruk semacam itu kautepis jauh-jauh. Kau tak ingin mengecewakan istrimu. Kau menjadi sedemikian rindu padanya. Perlahan kau membuka galeri di dalam memori ponselmu. Kau pandangi satu per satu potret istrimu sepenuh cinta.

“Sebentar lagi aku akan pulang, Sayang,” gumammu.

Bak gayung bersambut, telepon di genggamanmu bergetar. Kau mendapati potret istrimu berkedip-kedip di layar. Secepat kilat jari-jarimu mengusap tombol hijau.

“Pulanglah, aku sakit,” ucap seseorang di seberang sana. Terdengar parau.

“Sakit apa?”

“Tubuhku dingin sekali.”

“Nanti malam, selepas kerja, aku pulang.”

Panik. Gurat-gurat kekhawatiran tergambar jelas di wajahmu. Kau tampak pucat. Kau buru-buru mengemasi berkas-berkas. Lalu meninggalkan ruang kerjamu.

“Bapak, hari ini ada waktu bimbingan?” tanya seorang gadis.

Kau menengok ke belakang. Kau geram. Gigimu bergemeletuk. Di matamu seperti ada kilatan cahaya kemerah-merahan. Kau menggebrak meja di ruang jurusan. Gadis di dekatmu tersentak. Matanya membelalak. Dia menundukkan kepala.

“Aku sibuk!” bentakmu tepat ke telinganya. Kau bergegas, berlalu meninggalkan gadis itu. Kau menerabas hujan deras.

Gadis itu bergeming. Dia menyeringai. Dengan sorot mata tajam, penuh amarah, penuh kebencian, dia terus memandangimu hingga kau hilang tersamarkan rinai hujan.

***

Sabtu malam, kau tampak buru-buru. Kau memasukkan berkas-berkas ke dalam tas. Sejenak kau memastikan tak ada barang yang akan hendak kau bawa yang tertinggal. Besok pagi rapat jurusan. Kau mendapat tugas merekap data kelulusan mahasiswa. Kau agak anyel, kesal. Malam ini seharusnya kau pulang ke rumah, menemani istrimu yang sakit. Mendadak Sekretaris Jurusan menelepon, menagih tugas. Kau meminta izin dari Sekretaris Jurusan untuk tak mengikuti rapat, tapi dengan syarat kauselesaikan tugas-tugas yang diberikan dan kauserahkan kepadanya malam itu juga. Sungguh sial, motormu rewel. Kau lupa mengganti oli. Mesin kendaraanmu rusak parah. Kautitipkan motormu ke bengkel untuh dibenahi.

Malam itu, hujan sangat deras. Malam itu juga kau pasti tak menyangka akan bertemu denganku. Selepas dari rumah Sekretaris Jurusan, kau dan aku naik bus yang sama dan turun di pemberhentian yang sama pula. Kau sama sekali tak menyadari ada sesuatu atau bayangan yang mengikuti atau membuntutimu. Tiba di depan pintu rumah kontrakanmu, barulah kau berbalik arah dan memandangiku dengan tatapan heran. Kau tergeragap. Guratgurat ketakutan sekilas terlukis di wajahmu. Mungkin baru kali ini kau melihat sesuatu berjubah hitam sepertiku

Selama beberapa detik kau dan aku hanya saling tatap, tanpa bicara, sampai akhirnya kau  bertanya, “Siapa ya?”

“Aku tamumu.”

Kerutan di dahimu tampak sangat jelas. Seolah memberitahuku kau sedang berpikir keras untuk mengingatku.

“Apakah kita pernah bertemu?” tanyamu.

Aku menggeleng.

“Jadi, kau siapa? Sejak kapan mengikutiku?”

“Aku mengikutimu sejak tiga hari lalu.”

“Tiga hari? Mengapa aku baru melihatmu sekarang?” katamu sembari membuka pintu.

“Karena aku baru menampakkan diri sekarang.”

Tanganmu memutar kenop pintu. Bersiap meninggalkanku.

“Sudah waktunya.”

“Waktu untuk apa?” tanyamu dengan nada meninggi.

“Bukankah pagi tadi sudah kubilang, hari ini kau mati.”

Bulir-bulir peluh bermunculan di keningmu, meski hujan dan hawa sangat dingin.

“Kuharap kau puas atas kematianmu.”

Kau diam, bergeming. Namun secepat kilat kau menutup pintu rumah kontrakan. Namun aku tahu, kau belum beranjak pergi. Kau tetap di belakang pintu. Kau menunggu perkataanku.

“Kau tahu, kematian tak seburuk yang kaukira. Bahkan tak sepedih cerita orang. Kau perlu menyambut kematianmu dengan lapang dada dan penuh senyuman.”

“Hanya orang gila yang tersenyum pada kematian,” teriakmu dari dalam. “Pergilah! Aku belum menerimamu sebagai tamuku.”

Aku menggeleng. “Kau terlambat!”

Sebuah peluru berdesing. Bahu kirimu terkoyak. Tangan kananmu menahan darah yang mengalir deras. Peluru kedua berdesing dan bersarang di paha kirimu. Kau ambruk. Kau mengerang kesakitan. Napasmu terengah-engah. Suara tawa menyalak, memecah kesunyian. Kau sangat ketakutan. Matamu jelalatan.

“Si-siapa?” katamu gugup.

Lamat-lamat kau mendengar derap langkah kaki mendekat. Kau berupaya bangkit dari lantai. Kau sempoyongan. Kau menyandarkan tubuhmu ke dinding. Pandangan matamu perlahan mengabur. Kau seperti melihat sekilas bayangan berkelebat. Dan, seketika kau menyadari mulutmu sudah terbekap. Disumpal kain. Kau diseret ke sebuah kursi. Kau melawan. Namun kekuatanmu telah terkuras karena luka yang kau derita. Perlawanan itu sia-sia. Lalu kedua tangan beserta kakimu diikat ke kursi.

Suara tawa menggelegar.

“Hai, Sayang,” kata seseorang setelah membuka penutup kepala. Dia membenahi rambut panjangnya yang acak-acakan. Matamu membulat besar. Kau tampak tak percaya.

“Aku akan menjual jari-jarimu yang mahal ini,” katanya sembari mengelus-elus tanganmu.

Apakah tadi aku bilang kematian tak mengerikan? Aku melihat seseorang itu mengiris satu per satu jarimu. Menggerak-gerakkan belati, seperti seseorang memotong kayu dengan gergaji. Darah bersiciprat. Muncrat ke mana-mana. Kau meringis. Seseorang itu lalu mengeluarkan lima pisau dari dalam saku. Dia undur beberapa langkah, lalu melempar pisau itu satu per satu. Ada yang menancap di matamu, dadamu, selangkanganmu, mulutmu, juga keningmu. Seseorang itu seperti amatiran yang sedang bermain dartboard di dalam kamar.(28)

- Dicky Qulyubi Aji, lahir di Jepara, mahasiswa Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, menulis cerpen dan puisi.

Sumber : Suara Merdeka Edisi Minggu, 27 Januari 2019